Senin, 05 September 2011

IATA INDONESIA NEW OFFICE ADDRESS

Posted by Admin at Senin, September 05, 2011 0 comments Links to this post

 
Dear All Travel Agents.
,
 
We inform that IATA office is moving to a new address effective 05 September 2011 as per below:
 
IATA
Summitmas II, 17th Floor.
Jl. Jend. Sudirman Kav. 61-62
Jakarta 12190
 
Phone : (6221) -  29349000   
Fax :     (6221) -  5220706 / 08
 
 
Thank you for your kind attention.
 
Best Regards,
 
 
cid:image002.gif@01CAE6C4.2CC6B940
 
Rivan
Customer Services | Staff
 
 
 
PT. Abacus Distribution Systems Indonesia
Jl. Mampang Prapatan Raya No.93
Jakarta 12790 Indonesia
T (62-21) 27 5353 88
 
 


This email (including any attachments) contains information that is privileged or confidential and is intended solely for the individual/entity/addressee named herein. The sending of this email to any person other than the intended recipient is not a waiver of the privilege or confidentiality that attaches to it. If you are not the intended recipient, please do not read this email and notify us immediately and delete the email. You should not disclose copy or distribute this email. Any such action taken by you is strictly prohibited and may be unlawful.
Email transmission may be subject to error due to unauthorized interceptions, interferences, corruption or virus. Neither the sender nor the represented organization ensures error-free and complete transmission of the contents of this email or its timely receipt. Please verify your doubts directly with us.
PT Abacus Distribution Systems Indonesia ("the Company") does not accept any liability in respect of communication made by its employee who is contrary to the company policy or outside the scope of the employment of the individual concerned. The employee responsible will be personally liable for any damages or other liability arising.
__._,_.___


__,_._,___


Read More...

Garuda Indonesia dan Pos Indonesia Laksanakan Kerjasama Layanan Pembelian Tiket

Posted by Admin at Senin, September 05, 2011 0 comments Links to this post



 
PRESS RELEASE
 
Garuda Indonesia dan Pos Indonesia Laksanakan Kerjasama Layanan Pembelian Tiket

Sebagai bagian dari komitmen Garuda untuk terus meningkatkan layanan kepada para pengguna  jasa - khususnya dalam kemudahan layanan pembelian tiket, serta dalam rangka  meningkatkan sinergi di antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) - PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk menjalin kerjasama dengan PT. Pos Indonesia (Persero). Penandatangan kerjasama tersebut dilaksanakan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dan Direktur Utama Pos Indonesia, I Ketut Mardjana pada hari  Senin (22/8) di Gedung Pos Indonesia di Jakarta.

Melalui kerjasama ini, para calon penumpang Garuda Indonesia akan semakin mudah melakukan transaksi pembelian tiket karena dapat dilayani di Kantor Pos.  Untuk kerjasama ini, Pos Indonesia menyediakan  "counter" penjualan serta Sumber Daya Manusia (SDM)  dan Garuda Indonesia menyediakan "booth" di tujuh kantor yaitu Kantor Pos cabang Jakarta Selatan,  Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Solo, Bandung, Jambi, Semarang, Jogja, Surabaya dan Tanjungkarang. "Counter" penjualan Garuda Indonesia di kantor Pos akan semakin memudahkan pelanggan Garuda Indonesia melakukan reservasi, pembelian tiket, chek-in sekaligus pembayaran. Selain itu, pengguna jasa juga dapat menikmati fasilitas "self service" - dimana calon penumpang Garuda Indonesia dapat mengakses informasi penerbangan dan melakukan "check-in" di booth yang tersedia di Kantor-Kantor Pos tertentu.

Pembukaan counter/booth Garuda di Kantor Pos merupakan upaya untuk semakin memperbanyak channel distribusi produk dan jasa Garuda, selain melalui channel distribusi yang ada selama ini seperti travel agent, kantor Garuda, call center ataupun online booking.  

Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar mengatakan bahwa penandatangan kerjasama antara Garuda Indonesia dengan Pos Indonesia ini selain merupakan upaya Garuda Indonesia untuk terus menerus meningkatkan layanan kepada pengguna jasa, juga merupakan upaya Garuda Indonesia untuk meningkatkan sinergi antar BUMN yang telah terbangun selama ini. "Melalui counter penjualan dan booth Garuda Indonesia di kantor Pos ini, kami ingin lebih mendekatkan diri kepada pelanggan Garuda Indonesia, mengingat Pos Indonesia memiliki kantor cabang di seluruh Indonesia; dan menawarkan alternatif lain dalam hal pembelian tiket", tambah Emirsyah Satar.

Sementara itu, Direktur Utama Pos Indonesia, I Ketut Mardjana menyambut baik kerjasama ini. "Kiranya kerjasama ini dapat semakin menguatkan hubungan bisnis antara Pos Indonesia dengan Garuda Indonesia khususnya dalam upaya pengembangan korporasi kedua perusahaan dan meningkatkan pelayanan serta kemudahan kepada para pengguna jasa.", tambah Ketut Mardjana.

Pos Indonesia adalah BUMN yang menyelenggarakan pelayanan jasa surat pos dan paket, jasa keuangan, serta logistik, memiliki network sekitar 24 ribu titik layanan menjangkau 100 persen kota/kabupaten, hampir seluruh kecamatan dan 42 persen kelurahan/desa, dan lokasi transmigrasi di Indonesia. Jumlah Kantor Pos lebih dari 3.800, dilengkapi dengan 1.811 Mobile Pos di kota-kota besar yang sudah dilengkapi dengan teknologi sistem on-Line.

Kerjasama antara Pos Indonesia dengan Garuda Indonesia merupakan tindak lanjut dari penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) yang telah dilaksanakan oleh kedua belah pihak pada bulan Maret lalu. Kerjasama ini bukan merupakan hal yang baru bagi kedua BUMN, mengingat selama ini Garuda Indonesia dan Pos Indonesia telah menjalin kerjasama dibidang kargo yakni pengangkutan surat pos dan paket pos oleh Garuda Indonesia.     

Melalui Program "Quantum Leap", hingga tahun 2015 direncanakan Garuda Indonesia akan menambah armada dari yang saat ini berjumlah sebanyak 84 armada menjadi  154 armada yang terdiri dari B737-800NG, A330-200, dan B777-300ER. Selain itu, melalui program ini Garuda Indonesia pada tahun 2009 telah berhasil meraih predikat sebagai maskapai bintang empat dari lembaga SkyTrax dan direncanakan akan meraih predikat bintang lima pada tahun 2014 mendatang.

Pelaksanaan program Quantum Leap tersebut adalah sebagai upaya menyiapkan Garuda Indonesia sebagai flag carrier Indonesia untuk mampu melanjutkan peningkatan kinerja secara berkelanjutan, dan menyiapkan Garuda Indonesia agar menjadi airline yang kompetitif dan mampu bersaing di pasar internasional di masa-masa mendatang.

Jakarta, 22 Agustus 2011

PT. GARUDA INDONESIA (PERSERO) Tbk

Read More...

Permenhub 77/2011, Peraturan tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara

Posted by Admin at Senin, September 05, 2011 0 comments Links to this post

 
----- Pesan yang Diteruskan -----
Dari: Tjandra Kurniawan <tjandrakurniawan@yahoo.com>
Kepada: Tjandra Kurniawan <tjandrakurniawan@yahoo.com>
Cc: MILIS Abacus <Abacus-Indonesia@yahoogroups.com>; MILIS Amadeus <amadeusnetwork-id@yahoogroups.com>; MILIS ASITA <asita@yahoogroups.com>; MILIS ASPPI pariwisataku <pariwisataku@yahoogroups.com>; MILIS Galileo Club <galileo_club@yahoogroups.com>
Dikirim: Minggu, 28 Agustus 2011 19:47
Judul: [galileo_club] Permenhub 77/2011, Peraturan tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara

Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) 77 Tahun 2011 yang diteken pada 8 Agustus dan diperkirakan berlaku November 2011. Peraturan tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara ini mengatur mengenai asuransi delay pesawat, bagasi hilang dan kecelakaan. Berikut bunyi pasal-pasal inti dari 10 Bab dan 29 Pasal yang ada:

BAB II

Jenis Tanggung Jawab Pengangkut dan Besaran Kerugian

Pasal 2

Pengangkut yang mengoperasikan pesawat udara wajib bertanggung jawab atas kerugian terhadap:

a. penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap atau luka-luka;
b. hilang atau rusaknya bagasi kabin;
c. hilang, musnah, atau rusaknya bagasi tercatat;
d. hilang, musnah atau rusaknya kargo;
e. keterlambatan angkutan udara; dan
f. kerugian yang diderita oleh pihak ketiga.

Pasal 3

Jumlah ganti kerugian terhadap penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap atau luka-luka sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a ditetapkan sebagai berikut:

a. penumpang yang meninggal dunia di dalam pesawat udara karena akibat kecelakaan pesawat udara atau kejadian yang semata-mata ada hubungannya dengan pengangkutan udara diberikan ganti kerugian sebesar Rp 1,25 miliar per penumpang.

b. penumpang yang meninggal dunia akibat suatu kejadian yang semata-mata ada hubungannya dengan pengangkutan udara pada saat proses meninggalkan ruang tunggu bandar udara menuju pesawat udara atau atau pada saat proses turun dari pesawat udara menuju ruang kedatangan di bandar udara tujuan dan/atau bandar udara persinggahan (transit) diberikan ganti kerugian sebesar Rp 500 juta per penumpang.

c. penumpang yang mengalami cacat tetap, meliputi:

1. penumpang yang dinyatakan cacat tetap total oleh dokter dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari kerja sejak terjadinya kecelakaan diberikan ganti kerugian sebesar Rp 1,25 miliar per penumpang; dan

2. penumpang yang dinyatakan cacat tetap sebagian oleh dokter dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari kerja sejak terjadinya kecelakaan diberikan ganti kerugian sebagaimana termuat dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

d. Cacat Tetap Total sebagaimana dimaksud pada huruf c angka 1 yaitu kehilangan penglihatan total dari 2 (dua) mata yang tidak dapat disembuhkan, atau terputusnya 2 (dua) tangan atau 2 (dua) kaki atau satu tangan dan satu kaki pada atau di atas pergelangan tangan atau kaki, atau kehilangan penglihatan total dari 1 (satu) mata yang tidak dapat disembuhkan dan terputusnya 1 (satu) tangan atau kaki pada atau di atas pergelangan tangan atau kaki.

e. penumpang yang mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan di rumah sakit, klinik atau balai pengobatan sebagai pasien rawat inap dan/atau rawat jalan, akan diberikan ganti kerugian sebesar biaya perawatan yang nyata paling banyak Rp 200 juta per penumpang.

Pasal 5

(1) Jumlah ganti kerugian terhadap penumpang yang mengalami kehilangan, musnah atau rusaknya bagasi tercatat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c ditetapkan sebagai berikut:
 
a. kehilangan bagasi tercatat atau isi bagasi tercatat atau bagasi tercatat musnah diberikan ganti kerugian sebesar Rp 200 ribu per kg dan paling banyak Rp 4.000.000,00 (empat juta rupiah) per penumpang; dan

b. kerusakan bagasi tercatat, diberikan ganti kerugian sesuai jenisnya bentuk, ukuran dan merk bagasi tercatat.

(2) Bagasi tercatat dianggap hilang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila tidak diketemukan dalam waktu 14 (empat belas) hari kalender sejak tanggal dan jam kedatangan penumpang di bandar udara tujuan.

(3) Pengangkut wajib memberikan uang tunggu kepada penumpang atas bagasi tercatat yang belum ditemukan dan belum dapat dinyatakan hilang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebesar Rp 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) per hari paling lama untuk 3 (tiga) hari kalender.

Pasal 7

(1) Jumlah ganti kerugian terhadap kargo yang dikirim hilang, musnah atau rusak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d ditetapkan sebagai berikut:

a. terhadap hilang atau musnah, pengangkut wajib memberikan ganti kerugian kepada pengirim sebesar Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah) per kg.

b. terhadap rusak sebagian atau seluruh sisi kargo atau kargo, pengangkut wajib memberikan ganti kerugian kepada pengirim sebesar Rp 50.000,00 (lima puluh ribu rupiah) per kg.

c. apabila pada saat menyerahkan kepada pengangkut, pengirim menyatakan nilai kargo dalam surat muatan udara (airway bill), ganti kerugian yang wajib dibayarkan oleh pengangkut kepada pengirim sebesar nilai kargo yang dinyatakan dalam surat muatan udara.

(2) Kargo dianggap hilang setelah 14 (empat belas) hari kalender terhitung sejak seharusnya tiba di tempat tujuan.
Pasal 9Keterlambatan angkutan udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e terdiri dari:

a. keterlambatan penerbangan (flight delayed);

b. tidak terangkutnya penumpang dengan alasan kapasitas pesawat udara (denied boarding passenger); dan

c. pembatalan penerbangan (cancelation of flight)

Pasal 10

Jumlah ganti kerugian untuk penumpang atas keterlambatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a ditetapkan sebagai berikut:

a. keterlambatan lebih dari 4 (empat) jam diberikan ganti rugi sebesar Rp 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) per penumpang;

b. diberikan ganti kerugian sebesar 50% (lima puluh persen) dari ketentuan huruf a apabila pengangkut menawarkan tempat tujuan lain yang terdekat dengan tujuan penerbangan akhir penumpang (re-routing), dan pengangkut wajib menyediakan tiket penerbangan lanjutan atau menyediakan transportasi lain sampai ke tempat tujuan apabila tidak ada moda transportasi selain angkutan udara;

c. dalam hal dialihkan kepada penerbangan berikutnya atau penerbangan milik Badan Usaha Niaga Berjadwal lain, penumpang dibebaskan dari biaya tambahan, termasuk peningkatan kelas pelayanan (up grading class) atau apabila terjadi penurunan kelas atau sub kelas pelayanan, maka terhadap penumpang wajib diberikan sisa uang kelebihan dari tiket yang dibeli.

Lampiran
Besaran Ganti Kerugian Cacat Tetap Sebagian

 a. Satu Mata Rp 150juta 
 b. Kehilangan pendengaran Rp 150juta
 c. Ibu jari tangan kanan  Rp 125juta, tiap satu ruas Rp 62,5 juta 
d. Jari telunjuk kanan Rp 100 juta, tiap satu ruas Rp 50 juta  
e. Jari telunjuk kiri Rp 125 juta, tiap satu ruas Rp 25 juta 
f. Jari kelingking kanan Rp 62,5 juta, tiap satu ruas Rp 20 juta 
g. Jari kelingking kiri Rp 35 juta, tiap satu ruas Rp 11,5 juta  
h. Jari tengah atau jari manis Rp 50 juta, tiap satu ruas Rp 16,5 juta  
i. Jari tengah/jari manis kiri Rp 40 juta, tiap satu ruas Rp 13 juta.

Penjelasan:
Bagi mereka yang kidal, perkataan kanan dibaca kiri, demikian sebaliknya.





Read More...
 

ღ Hey...hEy...iT's mE ^^ Nda_NiEzz ღ Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop Vector by Artshare